Tips Gowes Aman Dalam Peloton

Infocarfreeday (22/11) – Berdasarkan penelitian The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) telah terjadi peningkatan jumlah pesepeda di DKI Jakarta, selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Bahkan kenaikan tren bersepeda di Jakarta mencapai 10 kali lipat bila dibandingkan sebelum masa pandemi virus corona (Covid-19).

Maka tak ayal, selama masa pandemi ini kita sering melihat fenomena rombongan pesepeda melintas berbaris memanjang pada hari Sabtu atau Minggu pagi. Meski bersepeda masuk ke dalam olahraga individu, tetapi bersepeda dalam sebuah grup atau komunitas itu mengasyikkan.

Iring-iringan pesepeda yang melintas di jalan raya dengan kecepatan konstan dalam formasi 1-2 baris ini biasa disebut sebagai peloton. Kepala Bidang Umum Ikatan Sepeda Sport Indonesia (ISSI) DKI Jakarta, Fatur Racavvara, seperti dikutip dari detikcom, Jumat (28/8) menjelaskan, peloton adalah rombongan pesepeda dengan kecepatan tertentu. Biasanya pada posisi terdepan dipandu oleh road captain yang menentukan kecepatan.

Bersepeda dalam peloton tidak bisa sembarangan. Dalam berpeloton, diperlukan komunikasi dan etika untuk menghargai keamanan dan kenyamanan pesepeda lain. Meskipun tidak ada aturan tertulis, tetapi poin utama berpeloton adalah harus aman dan efisien.

Aman artinya kita tidak mengganggu kenyamanan pesepeda lain yang ada di dalam grup dan juga tidak membahayakan diri sendiri. Efisien artinya menghemat tenaga untuk ketahanan (endurance) yang lebih lama.

Berikut tips aman dan etika dalam berpeloton seperti dilansir dari lini massa @bromptonmonascyclist, antara lain:

1) Fokus
Pandangan lihat ke depan, lihat ban dan jangan tengak-tengok.

2) Tetap Dalam Barisan
Jangan keluar tidak, masuk pun tidak (posisi seperti ini yang membuat bahaya pesepeda di belakang).

3) Jangan Sok Kuat
Berpeloton adalah kerjasama team, jadi jangan nyodok-nyodok pesepeda di depannya. Jika sudah tidak kuat, maka dianjurkan untuk langsung geser ke samping dan pindah ke posisi belakang.

4) Tetap Dalam Posisi 2 Jajar
Jangan lebih dari 2 jajar, supaya manuver jika ada hal berbahaya lebih mudah. Misal, jika ada lubang, maka pesepeda di sisi kiri bisa manuver ke kiri dan pesepeda yang di sisi kanan bisa manuver ke kanan.

5) Sign
Pesepeda terdepan harus selalu memberikan informasi ke pesepeda di belakang perihal keadaan di depan, contoh; hendak belok ke kanan, ke kiri, putar balik atau ada lubang.

Bersepeda dalam grup mengajari kita tentang kordinasi di mana posisi terbaik di situasi tertentu dan sharing work out (latihan). Nah, manfaatkan weekend Anda untuk bergabung dengan komunitas sepeda untuk belajar dan latihan berpeloton.

Selamat berlatih goweser! Safety Cycling, Healthy Cycling! 

(Arif iCFD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *