Pandemi Covid Bersihkan Udara Dunia

Infocarfreeday (10/4) – Pandemi virus Corona atau Covid-19 telah melanda lebih dari 200 negara atau kawasan di seluruh dunia. “Secara global: 212 Negara / Kawasan, 1.479.168 kasus terkonfirmasi, 87.987 kematian”, tulis data WHO per tanggal 10 April 2020.

Seluruh negara telah berupaya melawan virus yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019 lalu. Beragam upaya untuk melawan virus yang menyerang sistem pernapasan ini, dari mulai sosialisasi kebersihan, social distancing, penyemprotan disinfektan, pembatasan sosial sampai lockdown. 

Selain untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, pembatasan sosial ataupun lockdown juga mempunyai dampak pada turunnya polusi secara drastis. Penelitian menemukan bahwa partikel polutan kecil yang dikenal sebagai PM 2.5, dihirup selama bertahun-tahun, akan secara tajam meningkatkan kemungkinan kematian akibat virus.

Di negara India, hanya satu bus terpantau melintasi jalan raya yang biasanya ramai polusi kendaraan bermotor di pinggiran New Delhi, pada 5 April, setelah pemerintah India memutuskan pelaksanaan lockdown untuk memutus penyebaran pandemi ini. “Banyak orang melaporkan melihat Himalaya untuk pertama kalinya dari tempat tinggal mereka”, ujar Lauri Myllyvirta, seorang analis di Pusat Penelitian Energi dan Udara Bersih berbasis di Helsinki.

Dari provinsi Hubei Cina ke utara Italia dan sekitarnya, tingkat polusi merosot drastis saat lockdown diberlakukan. Lockdown bertujuan memperlambat penyebaran virus dengan menghentikan bisnis dan memaksa miliaran orang beraktifitas di lingkungan rumah.

Di Amerika Serikat setelah puluhan tahun sejak diterapkannya regulasi pengurangan polusi baru kali ini bisa didapatkan kualitas udara yang baik dengan tingkat PM 2.5 atau turun 30 persen dari tahun-tahun sebelumnya. Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tingkat kematian orang di negera-negara maju karena polusi juga tergolong tinggi dibandingkan dengan terpaparnya virus corona, namun hal ini tidak kita sadari bersama.

Di negara asal penyebaran virus Cina penurunan polusi yang diakibatkan penutupan serta penghentian aktifitas beberapa industri besar diyakini bisa menyelamatkan sekitar 53.000 sd 77.000 jiwa dari kematian yang jauh lebih banyak dari terjangkitnya corona.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh seorang ilmuwan sistem bumi di Universitas Standford Marshall Burke menyimpulkan bahwa lebih dari 1.2 juta kematian per tahunnya akibat pencemaran polusi udara. Inilah pentingnya terjaga nya kualitas udara di seluruh dunia terutama Jakarta dimana tingkat polusinya masih tergolong cukup tinggi. Ini wajib kita sadari bersama bahwa yang akan mengakibatkan tingkat kematian yang ditimbulkannya jauh lebih besar dibandingkan dengan wabah saat ini. (Andry iCFD)

Sumber : National Geographic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *